Tentu saja dengan hati yang sangat sedih dan berduka kami mendengar kabar kepulangan Pak Bram Abraham. Pak Bram sendiri merupakan seorang figur yang menjadi saksi dan kolaborator paling antusias dari perkembangan Kampoeng Bogor dan segala dinamikanya selama bertahun-tahun belakangan. Pak Bram yang selalu tidak keberatan kami temui di Pulo Geulis dan menjadi teman diskusi yang hangat sangat mempengaruhi kami dengan pandangan dan kecintaannya akan kampung tempat tinggalnya. Pak Bram menjadi penjaga paling setia akan gambaran toleransi yang diperoleh selama ini oleh Pulo Geulis. Tentu melalui kiprahnya di Klenteng Pan Kho Bio.
Momen paling intens saya berinteraksi dengan beliau mungkin ada pada sekitar tahun 2016-2017 ketika Kampoeng Bogor menyiapkan festival kampung yang diselenggarakan di Pulo Geulis melalui perantaraan program Urbanisme Warga. Pak Bram menyumbangkan seluruh energi bahkan materinya untuk membantu kelancaran pelaksanaan festival. Saya ingat pada hari dimana festival akan diselenggarakan beliau mengirim pesan singkat kepada saya agar seluruh teman-teman panitia dari Kampoeng Bogor datang ke Pulo Geulis pada saat jam makan siang padahal festival kami rencanakan untuk dimulai di sore hari. Ternyata maksud undangannya untuk datang lebih awal adalah karena warga telah menyiapkan makan siang untuk seluruh panitia pada hari itu. Sesuatu hal yang tentu saja di luar pengharapan kami. Saya tersentuh dengan kehangatan sambutan yang diberikan.
Di hari festival kampung itu diselenggarakan Kampoeng Bogor merilis film dokumenter kampung juga zine fotografis yang di dalamnya saya sertakan pula tulisan Pak Bram. Tulisan yang beliau bikin saat wacana penggusuran atau dalam bahasa halus teknokratiknya adalah revitalisasi kampung Pulo Geulis yang sempat menggema di tahun 2010an. Draft awal yang saya dapat dari tulisan itu berbentuk foto copy dari tulisan tangan beliau langsung. Saya sangat tertarik tentu saja dengan ekspresi beliau untuk menulis mengenai kampungnya di saat dimana terdapat kekecewaan dan kekhawatiran akan penggusuran. Di luar keraguan dan ketidakpercayaan diri Pak Bram akan karya tulisnya, saya memilih tetap memasukan tulisan itu menjadi bagian dalam zine yang Kampoeng Bogor terbitkan dengan pertimbangan untuk mendokumentasikan pengetahuan yang dimiliki oleh warga lokal.
Paska festival intensitas komunikasi kami memang agak sedikit berkurang meskipun salah satu pesan Pak Bram yang paling berbekas seusai festival adalah untuk jangan menjadikan warga hanya sekedar obyek program. Proses pertemanan dengan warga lokal yang telah kami bangun juga beliau harapkan dapat mendorong warga menjadi subyek yang aktif dalam upaya mendorong Pulo Geulis menjadi kampung yang lebih hidup, di sisi lain dia juga sering sekali mengeluhkan soal eksploitasi orang luar yang tidak memberikan manfaat apa-apa terhadap warga. Kegelisahan ini yang memang terus terpancar dalam setiap obrolan dengan Pak Bram, terkadang ada jeda dimana dia merasa selalu bertemu jalan buntu ketika mendorong warga agar tetap aktif dan memberikan pengertian kepada orang luar agar tidak berlaku eksploitatif terhadap Pulo Geulis. Sebuah tanggung jawab besar yang semestinya juga tidak harus dia emban sendirian.
Seluruh impresi dari tulisan ini terhadap Pak Bram tentu saya sadari datang dari pengalaman dan interaksi yang saya akui terbatas. Kepergian beliau memang begitu mendadak meskipun memang di tahun-tahun belakang saya juga semakin melihat sosok beliau yang tidak lagi begitu prima. Kabarnya beliau pingsan dan akhirnya dinyatakan meninggal pada saat akan menerima tamu di Klenteng Pan Kho Bio Pulo Geulis. Sebuah rutinitas harian yang dia jalankan selalu dengan kebanggaan. Saya hanya berharap bahwa seluruh cerita dan narasi yang sering beliau sampaikan dapat tetap hidup di tengah kita dan semangat dalam menggali cerita-cerita lokal dapat menjadi inspirasi bagi Bram Abraham-Bram Abraham yang lain.
Reza Adhiatma